Jumat, 04 Januari 2008

mesin bio-etanol kapasitas 100 L per hari

Berikut ini adalah spesifikasi mesin bio-etanol kapasitas 100 L perhari dengan kisaran harga sekitar Rp 60 jt. alat ini cocok untuk industri rumahan karena membutuhkan ruang proses cuma 6 x 6m
1 Parutan Ubi Kayu kapasitas 100 kg /jam (1 unit)
2 Receiver kapasitas 50 lt dari tangki plastik (2 unit)
3 Cooking Tank kapasitas 100 lt dari besi (2 unit)
4 Tangki Sakarifikator kapasitas 100 lt dari besi (2 unit)
5 Heat Exchanger panjang = 2 m dari besi (2 unit)
6 Pompa Medium kapasitas 10 lt /menit (2 unit)
7 Tangki Fermentor kap. 200 lt dari tangki plastik (4 unit)
8 Pompa Fermentor kap. Q = 40 l/m dan H = 18 m (1 unit)
9 Saringan ,Broth Pit Mesh dan pompa kap. 100 ;1..200 x 600 (1 unit)

10 Broth Pit kapasitas 2 x 100 lt dari tangki plastik
11 Broth Pump kapasitas Q = 40 l/m dan H = 18 m (1unit)
12 Broth Tank kapasitas 1,1 m3 dari tangki plastik (1 unit)
13 Feed Pump kapasitas Q = 40 l/m dan H = 18 m (1 unit)
14 Evaporator kapasitas 100 Lt dari besi (2 unit)
15 Kolom distilasi Kapasitas s/d 100 lt dari besi (2 unit)
16 Tandon Air kapasitas 1,1 m3 dari tangki plastik (1 unit)
17 Pompa Air Pendingin HE kap. Q = 40 l/m dan H = 18 m (1 unit)
18 pH meter ,Alkohol Meter , Spg meter (@=1)
19
Tangki air pendingin kolom destilasi kap. 100 L dari tangki plastik (1)
20 Termometer

Sebelum anda memutuskan untuk memulai usaha pembuatan etanol ini, perlu di pertimbangkan:

  1. Analisa usaha dalam menggunakan produk ini.
  2. harga bahan baku, suplai bahan baku, karena harga dan suplai ubi kayu di berbagai daerah berfluktuasi.
  3. kemana etanol akan dijual? untuk skala kecil bisa dijual ke industri farmasi, industri kimia, atau diproses lebih lanjut menjadi FGE (etanol 99,5%) dan dijual untuk BBM.

sumber : www.anekaindustri.com

Selasa, 01 Januari 2008

Pabrik Bio-etanol Terbesar Siap Dibangun

TEMPO Interaktif, Bandung:Produsen bio-etanol dari Korea Selatan, LBL Network Ltd menandatangi nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Subang, Sumedang, dan Indramayu untuk membangun pabrik pemroses ubi kayu menjadi bio-etanol di Jawa Barat. Bio-etanol merupakan bahan campuran untuk premium.Pemerintah Jawa Barat akan memfasilitasi masyarakat di Kuningan, Subang, Sumedang, dan Indramayu menanam ubi kayu sepsies Manihot Esculanta Trans. Empat daerah ini menjadi basis penanaman ubi. "Proyek ini untuk mengembangkan industri bio-etanol," kata Presiden & CEO LBL Network Co. Ltd. Kang Yong Soo di Bandung pada Kamis (30/11). Dalam operasinya, perusahaan Korea Selatan ini menggandeng PT Mitra Sae International sebagai pelaksanaka joint operation pengembangan pabrik bio-premium. Bahan ini merupakan hasil campuran antara Premium dan 5 persen etanol dari bahan baku ubi kayu. Menurut Direktur PT Mitra Sae International Tony Firmansyah, pabrik yang dibangun memiliki kapasitas produksi 200 juta liter etanol per tahun. Lokasinya di sekitar Indramayu, Sumedang, atau Subang. Total investasi, termasuk working capital mencapai 100 juta dolar Amerika. “Ini industri bio-etanol terbesar di Indonesia,” katanya. Untuk mencapai target produksi itu, kata dia, dibutuhkan bahan baku ubi kayu segar sebanyak 1,2 juta ton per tahun. Lahan untuk menghasilkan ubi kayu segar itu diperkerikan sekitar 23 ribu hektare. Tapi, untuk menjaga kelangsungan produksi ubi kayu dibutuhkan lahan seluas 50 ribu hektar. Wakil Gubernur Jawa Barat Nu'man Abdul Hakim meminta empat daerah tadi tidak menggunakan lahan produktif untuk menanam ubi kayu. "Jangan melakukan alih fungsi lahan produktif ke ubi," katanya. Penyediaan lahan akan memakai konsep inti plasma yakni masyarakat dilibatkan menanam ubi dan bukan dengan membebaskan lahan. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat Asep S Abdie meminta lahan untuk ubi kayu berada di tanah landai. Selain itu pola penanaman ubi harus dengan cara diselang agar tidak merusak tanah. ahmad fikri

sumber : tempo interaktif